Tampilkan postingan dengan label Puisi Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Ku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

ketika hati ingin bicara cinta


Kubiarkan hati ini membiru lalu kelabu...
kubiarkan saja ia menghijau lalau membara dalam nyala...
terlalu banyak kuterima rasa sampai tak sanggup menilai apa-apa
tak sanggup mengartikan setiap arti denyutannya...

kubiarkan saja kau dalam kosong untuk berapa lama,
tak ada makhluk pengisi ruangnya...
tapi entah terasa tak kuasa..sepi, hampa, serasa tanpa nyawa..

ku coba mengisimu,dengan siapa yang datang kemudian menyapa..
tapi terasa lelah dan berdosa..
lantas ku usir saja..kini kubiarkan hatiku mengembara, bergantung dan berkelana...

hingga suatu waktu aku percayakan saja...
kau pada sang pencipta..
(ketika hati ingin bicara "aku cinta" tapi belum saatnya)
Jakarta, 26 maret 2011

Kisah Cinta Kita (Teruntuk Ibunda yang Tak Lama Lagi Akan Kutemui)


Ada cerita yang sejati antara kita,
Cerita tentang kasih, cerita tentang sayang . .  .
Cerita cinta paling berkesan,
Cerita tentang kasih sayang yang tak pernah ada tepi pada semua sisi . . .

Ada kisah cinta paling romantis antara kita,
Kisah dengan skenario jujur sepanjang jalan,
Kisah haru biru ungu selalu jadi satu,
Kisah kasih mengharukan
Kisah tentang lembutnya hati  yang ikhlas selalu memberi

Ada skenario yang memang Tuhan tuliskan di antara kita,
Skenario paling apa adanya,
Skenario yang tak menghabiskan banyak pita hitam perekam,
Skenario yang paling sederhana sepanjang masa,

Ini bicara tentang kisah yang akan tercatat dalam lembar-lembar sejarah sampai masa depan,
sebuah kisah yang tak kan mungkin usang penuh terkenang-kenang,,
Ini sebuah cerita yang hadir bukan karena rekayasa,
Juga skenario yang tak pernah jatuh kejar tayang,
semua selalu disisipi rindu penuh ketulusan,
ada ikatan kuat yang tak pernah akan dipisahkan,
juga roman yang mengalahkan keabadian romeo juliet . . .
Ini bicara tentang kisah cinta,
Cinta tulus yang tak pernah putus sepanjang zaman . . .

(Teruntuk Ibunda yang tak lama lagi akan kutemui)
Jakarta, 12 Agustus 2011
Ketika raga ini tak sabar ingin memelukmu . . .

Titik Koma


Titik
Koma
Titik
Koma

Kau tulis titik, tapi masih kau beri koma.
Padahal sudah kau katakan ini sudah akhir.
(Tapi kulihat jelas kau gores koma penyambung kata-kata)

Titik
Koma
Titik
Koma
(Kau memang tak gagah memilih jalan)
Kau berhenti kau bilang ini akhir (Tapi kau lanjut lagi, kiri, kanan, lalu jalan)
Kau bilang ini jalan yang kau pilih, tapi kau belokkan lagi setir tanpa kira-kira
kiri kanan, berhenti, tapi kau jalan lagi

titik
koma
titk
koma
titik
kau berhenti
koma
kau jalan lagi
titik
kau berhenti (lirik kiri, lirik kanan)
koma
kau jalan lagi (aku tepat didepanmu)
titik (kau berhenti)
pakem rem, kau buat titik
kau hening
titik,
aku ingin jadi titik besar untuk mu...

Sintang, 2 September 2011
9:32 pm (waktu kamarku)