Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Kritik (Untuk semua yang sering resah menerima kedatangannya)


Kritik?
Satu kata yang mengandung unsur membangun dan bisa memecah belah,  sebelum lebih jauh, mari kita telisik makna kritik dalam goresan singkat ini,
Kritik menurut kamus bahasa Indonesia adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb 
Setiap dari kita pasti punya penilaian yang berbeda tentang hal ini.  Ada yang memandangnya dari perspektif positif ada pula yang merasa hal ini merendahkan hingga konotasinya menjadi negatif.  

Tanpa kita sadari tidak ada satupun dari kita yang tak pernah mengkritik dan menerima kritikan.  Namun, dari sekian banyak intensitas aktivitas kita dalam dikritik dan mengkritik, seringkali kita lupa esensi kritik tersebut, bahwa kritik adalah tanggapan yang disertai pertimbangan baik dan buruk dan sering ditambahkan kata membangun di akhir katanya.  Terkadang kita "mengamnesia"kan diri kita menggunakan kesempatan mengkritik untuk mencari sudut lemah seseorang tanpa memberikan pertimbangan baik buruk dan kesediaan kita untuk membangun .  Seringkali kritik menjadi alasan kita untuk menjatuhkan dan menyudutkan individu, badan, organisasi, dan lain sebagainya.  Seringkali kita menjadikannya pembuka tabir persengketaan, pelebar jurang permusuhan, penebar benih dendam kebencian.
Bukan hanya yang mengkritik yang memiliki potensi untuk melupakan esensi kebaikan kata kritik,  tapi ketika menjadi objek kritik kita pun sering melupakan bahwa, kritik adalah bentuk perhatian yang seharusnya kita dengarkan dengan hati dan pikiran terbuka.  Dan sepeptutnya kritik menjadi bahan ajar untuk melangkah ke arah lebih baik.

Entah menjadi subjek atau objek kritik, seberapa keras dan tajam kritik yang dilemparkan atau yang kita lemparkan, semoga kita semua bisa memfilternya kemudian menerimanya dengan legowo.
Karena kritik adalah satu kata yang seharusnya membuat kita bijak bestari dan dewasa menjalani jalan hidup ini.  
Mengkoreksi dan terkoreksi, menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.



Jakarta, 13 Juni 2011
Untuk diriku,
Dan teman-teman yang terkadang khawatir menerima dan menghadirkan kritik dalam lini hidupnya.


Catatan Penyambutan (Ketika rekan, relasi, dan cinta datang dan pergi di sepanjang perjalanan)


Terkadang perlu banyak pemikiran untuk menerima sebuah kehadiran orang-orang baru dalam kehidupan kita.
Satu persatu hadir dan pergi mengisi dan mewarnai setiap detik waktu yang sang pencipta amanahkan kepada kita.
Tak jarang dari kedatangan disambut dengan sapaan hangat dan niat menjalin sebuah koneksi yang baik, berkenalan, saling percaya, dan pada akhirnya saling ketergantungan, dan bersimbiosis dengan konteks paling mutualisme idealnya.
Tapi tak jarang pula sebuah kedatangan kita sambut dengan sinis antipati, dan tidak ada kadar simpati sedikitpun, apa pun alasannya ketika hal ini terjadi akan sulit membentuk sebuah relasi, jikalau pun ada relasi sudah bisa diprediksi banyak cacat disepanjang kisah nya dan non-simbiosis barang tentu terjadi.
atau pilihan lainnya, sebuah koneksi dari kedatangan terjadi berjalan dengan mulus, jujur adanya, tapi berakhir dengan uraian air mata. Tragis,  kata-kata benci menghias setiap kata perpisahannya.

Ketika kita siap menerima dan menyambut ramah sebuah 'kedatangan' sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita siap melepaskan dan siap mengucapkan selamat tinggal.
Sebuah konsekuensi dari kehidupan adalah teorema aksi reaksi dan kesetimbangan.  Setiap kedatangan harus kita ingat akan ada kisah kepergian pada akhir masanya.

Seberapa indah masa-masa yang kita lalui bersama orang-orang yang kita sambut dalam kehidupan kita,ada kata-kata selamat tinggal yang pasti menunggu di ending kisahnya.
tapi bagaimana bentuk perpisahan itu, tak ada satupun dari kita yang bisa meramalkannya, karena kita, manusia, hanya bisa membuat usaha untuk mempertahankan sebuah hubungan dengan itikad baik yang kita punya.
Berusaha menjaga segala macam komitmen relasi semampu dan sewajarnya saja.
Karena setiap kedatangan yang kita sambut dengan baik akan terbayar dengan banyak kisah indah dalam relasi dan interaksi sesama sepanjang hayat,  sepanjang masa . . .

Mungkin saja yang kita cintai hari ini akan menjadi orang yang kita benci pada akhirnya,
Terima kedatangan rekan, teman, dan cinta sewajarnya . . .
Sambut dengan ramah kisah yang orang-orang sekitar kita tawarkan,
Saring isi dan maknanya,
Jalin hubungan sewajarnya,
Jaga semua yang telah kita rajut dengan orang-orang sekitar kita,
Karena setiap waktu yang ada, adalah pita-pita perekam skenario yang akan abadi sepanjang masa,

Cintai orang-orang di sekitar kita sewajarnya,
Berikan yang terbaik semampu yang kita bisa,
Pertahankan genggaman tangannya sekuat yang kita sanggup,
Jangan paksakan hati kita untuk bersimbiosis dalam kimia yang berlebih,
karena Tuhan sang Pencipta maha pembolak-balik hati dan mata perasaan . . .


(Teruntuk seseorang yang menemani pendewasaan kehidupan ini, semoga kedatangan dan kepergianmu bisa kusikapi dengan sebaik-baik sikap yang aku punya)
Sintang, 280811
[Ditengah Panasnya Khatulistiwa Indonesia ;)]

Kamis, 24 Februari 2011

Catatan Perjalanan (Ketika Perjalanan Hidup Terlalu Sulit Untuk Direkam)


Perjalanan kehidupan,  itulah sebuah perjalanan terpanjang dan sangat pelik untuk di gambarkan pada peta,  terlalu rumit untuk dibuatkan gambaran utuh menyeluruh. 
Perjalanan kehidupan ibaratnya sebuah potongan-potongan mozaik yang saling lengkap-melengkapi dalam keberadaannya. 
Layaknya puzle-puzle yang berserakan dimana-mana,  yang bisa kita rangkaikan satu-persatu menjadi bentukan utuh. 
Proses perangkaian nya pun bukan hal yang serta-merta, perlahan tapi pasti membentuk gambaran.  Begitu pula perjalanan hidup kita,  perlahan tapi pasti membentuk sebuah alur kedewasaan, yang tidak meneyertai kita begitu saja,  ia hadir dan lengkap dengan pengalaman.
Pahit, manis, itulah rasa perjalan itu.  Seringkali indah walau kadang penuh duri membingungkan.  Tak jarang dihadapkan pada pilihan.  Namun,  seringkali keterpaksaan yang mengeksiskan keberadaan perjalan hidup kita.  Mungkin pernah bertemu dengan kegagalan yang pada akhirnya mempertemukan kita dengan jalan-jalan menuju kesuksesan atau kegagalan yang mengajarkan kita arti usaha dan perjuangan.  Banyak kesulitan-kesulitan yang pasti kita temui,  walau tak jarang kemudahan instan menjadi nikmat keberuntungan yang menyertai alur perjalanan.
Itulah bentuk rigi-rigi puzle yang terkadang harus bijak kita kombinasikan,  agar ia berbentuk gambar utuh tanpa selisih, tanpa cacat.

Terkadang hikmah yang ada dalam alur perjalanan kita tak kita telaah.  Sesal lebih sering menghampiri ketimbang ucapan-ucapan syukur selama perjalanan itu.  Padahal syukur itulah warna yang membuat rangkaian puzle kita terlihat lebih sempurna. 

Tak jarang kita tak bisa mengambil hikmah dari kerumitannya.  Kita tak bisa melihat sisi-sisi baik dari rangkaian yang telah tersusun,  kita tak pernah menyadari betapa penting keping-keping puzle yang tengah kita cari dan kita rangkai.  Kita terlalu sering melupakan bagian-bagian pentingnya.  Sering kita tidak bersyukur dengan kisah-kisah yang ada dalam tiap kepingannya.  Kita sering melalaikan nikmat waktu dan nikmat ujian yang pada hakikatnya merekatkan kepingan satu dengan lainnya. 
Betapa pun sulit bagi kita untuk melalui dan mencari kepingan-kepingan kecil dari puzle kehidupan, semoga tidak membuat kita lalai untuk melihat indah warnanya dengan rasa syukur,  merangkainya satu persatu dengan rasa sabar,  dan berusaha mengukuhkannya dengan   tawakal.

(Jakarta, 25 Februari 2011,  Ketika semuanya mulai terasa berat)

Selasa, 07 Desember 2010

Catatan Pilihan (Ketika Harus Dihadapkan Pada sebuah Persoalan Pelik)

Pilihan . . .?
Malam ini aku mendapat satu pelajaran berharga lagi.  Kali ini tentang pentingnya arti memilih. Ketika dihadapkan pada dua pilihan yang masing-masing menawarkan sisi putih dan kelamnya.
Ada orang bijak yang mengatakan bahwa hidup ini adalah pilihan.  Pilihan untuk menentukan sesuatu yang harus dipegang dan dilepaskan pada bagian lainnya. Sungguh sulit dan benar-benar menyiksa ketika kita dihadapkan pada dua situasi dimana kita harus mengatakan “ya”pada satu situasi dan “tidak” pada situasi lainnya.
Sampai ada kata-kata lawas yang sering kita dengar “seperti makan buah simalakama, dimakan ibu mati tidak dimaka n bapak mat.”  Begitulah pilihan dia berat tapi harus dipikul.  Dengan segala macam konsekuensi yang menanti dibelakang nya. 
"...........................Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (Qs. Yusuf:18)
Dalam ayat cinta-Nya,   Allah Swt saja memberi kita pilihan untuk memandang sesuatu yang baik dan yang buruk bagi diri kita.  Betapa penting pilihan dalam hidup ini hingga Allah menurunkan ayat yang memberikan kita kebebasan untuk menentukan sebuah pilihan.
Pilihan, begitulah kata ini ada dan akan selalu diakui keberadaannya sepanjang waktu masih bergulir. Dengan kebijaksanaan dasar yang kita miliki pasti ada sebuah pilihan yang bisa kita lakukan walau beribu konsekuensi menanti di baliknya.
Jangan takut untuk memilih sesuatu yang benar dan baik bagi kita maupun orang di sekitar kita.
Karena hidup ini pun pada hakikatnya dalah sebuah pilihan.  Pilihan bagi orang-orang yang bersyukur dan menghargai dirinya.
(Terimakasih pada semua orang yang mengajakku berdiskusi malam ini)
Jakarta, 8 Desember 2010

Sabtu, 04 Desember 2010

Catatan untuk Ibu (yang amat jauh disana)

IBU, tiga huruf yang banyak kata penggantinya untuk menyapanya. Sapaan yang terkandung dari 3 huruf itu benar-benar memiliki peran penting dalam tata kehidupan, disagala lini kehidupan. 
Ia yang bisa mengasihi dikala tak ada seorangpun yang mau menaruh kasih pada kita, dia orang yang mau menemani disaat tak ada seorang teman pun yang sudi merangkul pundak kita. Dia seorang dengan hati lapang, pikiran luas, wajah tenang, laku sopan, dan pemilik tangan yang hangat lagi mendamaikan . . . 

Di dalam genggamannya segala masalah serasa bisa di pecahkan. Sosok yang tangguh yang bisa memanajemen segala urusan. 
Dengan pikirannya segala problema serasa ringan tiada beban. Sosok cerdas yang bisa memberi solusi.
Dengan Ucapannya bisa menenangkan hati yang gundah. Sosok yang lembut menenangkan.
Dengan Belaian tangannya rasa sakit bisa hilang tanpa sisa. Sosok yang paham, pengertian.
Dengan Pelukannya, keresahan serasa hanya angan-angan . . .


Dia begitu lembut, tenang, dan menyenangkan . . .
Di dalam tengadah doa-doanya langkah penuh impian bisa dikabulkan . . .
Dialah wanita sabar yang kesabarannya luas melebihi gurun sahara . . .
Dialah wanita penuh rasa cinta yang cintanya dalam melebihi ribuan samudra . . .
Dialah ibu sosok yang harus kita cintai setelah Allah dan Rasulullah . . .

Hormatilah ia . . .
Karena dalam ridhonya ada selamat
Jangan sakiti ia . . .
Karena dalam murkanya ada laknat . . .

IBU, tiga huruf yang banyak kata pengganti untuk menyapanya. Namun, tak ada satu kata pun yang bisa menggantikan segala jasa-jasanya . . . .
Bahagiakan ia, penuhi keinginannya, turuti kata-katanya,
Selagi ia masih ada, 
nyata didekat kita . . . .

Seandainya kau tau betapa rinduku kepadamu ibu, 
seandainya kau tau betapa aku ingin membahagiakanmu ibu. 
Aku ingin engkau bangga melihatku. 
Melihat anakmu yang seringkali melukai hatimu dengan ujar lisanku, 
merepotkanmu dengan segala keluh kesahku, 
membuatmu menangis dengan segala lakuku.

betapa aku merindukanmu, 
rindu yang begitu dalam.
Tak dapat dihitung dengan jengkalan.
Betapa aku ingin memelukmu, meminta maaf mu, 
meminta restumu, meminta doamu.
Ibu,
Betapa aku merindukan hangat belaianmu, 
lembut usapanmu ketika ku lelah, 
apakah kau tahu betapa beratnya jalan ini?
Betapa kerasnya hidup tanpamu?
Batapa panasnya udara tanpa mu?

Apa kau tahu betapa aku sangat ingin kembali? 
Sangat ingin mendengar segala wejanganmu, betapa aku sangat rindu akan hadirmu…

Aku berjanji akan menjadi kebanggaanmu. 
Aku selalu berharap aku sempat dan sanggup membahagiakanmu…

Walau ku tahu, segala detik kasihmu tak akan pernah dapat terganti.
Add caption

Jakarta, Juli 2010 (saat rindu amat menggebu)
[Baru di Posting saat semangat ngeblog nyala lagi ;)]

Catatan Persahabatn (Untuk Sahabat yang Hadir Disaat Mulai Kehilangan Pegangan)

Hitam putih dua warna yang selalu hadir dalam semua kombinasi keberadaan.  Putih yang acap mewakili kebaikan seringkali dinodai hitam yang sering dikonotasikan keburukan.  Dua warna yang kontras berbeda.  Namun, erat,  saling bergandengan.

Seperti itulah persahabatan, ia terlahir dari dua atau lebih individu yang pada awalnya kontras dan saling berlainan,  kemudian saling dipertemukan dan menyatu dalam formula yang bernama saling membutuhkan.

Layaknya si Hitam dan si Putih persahabatan acap kali saling meberikan bauran warna yang berbeda,  ada yang berubah menjadi hitam kelam saat menemukan sahabat yang membawa pada kemudaratan ada pula yang menjadi putih apik cemerlang ketika bersua dengan sahabat yang baik atau berubah menjadi abu-abu temaram ketika masih gamang tak memiliki pegangan sehingga tak tau akan terseret kemana.

Persahabatan universal sifatnya,  bebas, luas. Tak perlu dispesifikasikan bentuk dan wujudnya atau dimana ia harus ditempatkan.

Persahabatan hanyalah sebuah rasa yang harus diterima keberadaannya dan disaring akan hakikatnya.

Persahabatan,  ia takperlu diuraikan kedalam partikel-partikel kekhususan cukup disaring,  diterima, kemudian dirasakan.  Kita bisa bersahabat dengan siapa saja,  orang tua kita, saudara kita,  rekan-rekan kita, lingkungan sekitar,  bahkan zat yang mahatinggi pun sepatutnya menjadi sahabat terdekat kita.  Menjadi sahabat utama yang menjadi sandaran untuk segalanya.

Itulah keuniversalan persahabatan,  ia sederhana, ringan,  dan tidak membebani.

Sekali lagi ia Cuma perlu disaring, diterima, dan dirasakan. 

Dengan tambahan bumbu kejujuran,  penghormatan, saling menghargai, dan pengertian.  Ia akan menjadi sebuah zat kimia yang tiada tanding dahsyatnya.  Ia akan menjadi obat dari kesepian,  ia akan menjadi pendamai dalam kegalauan dania akan menjadi guru yang mengingatkan disaat kita mulai lalai tanpa pegangan.  Karena betapa pentingnya persahabatan,  maka jaga lah ia,  pupuk dengan rasa penghormatan,  sirami dengan keikhlasan,  naungi dengan atap-atap pengertian,  topang dengan tonggak kejujuran,  maka ia akan tumbuh subur,  saling menguatkan.

Rabu, 13 Oktober 2010

Catatan Kebahagiaan (Hari ini,esok,dan seterusnya)

Ini pengalaman ku saat aku akan berangkat ke kampus. Pengalaman yang sulit kulupakan ketika sedang berniat menyantap nasi uduk disalah satu warung di komplek sekitar asramaku. 
Aku melihat sepasang suami istri yang sudah memasuki hari tua. Keduanya tidak bisa dikatakan muda lagi, gurat-gurat usia sudah terlihat di wajah mereka. Dengan baju yang tidak bisa dikatakan rapi pula. Sandal jepit dekil, kemeja bolong-bolong yang warnanya telah luntur menjadi penghias badan bapak tua yang menjadi suami dari seorang wanita tua yang berpakaian tak kalah usangnya dengan suaminya itu. 

Lima menit aku masih menunggu nasi uduk pesanan ku datang, dalam 5 menit itu pula aku memperhatikan keduanya dengan malu-malu. Di hadapan mereka hanya ada sepiring nasi uduk lengkap dengan tempe dan kerupuk serta campuran lainnya. Bisa ku ambil kesimpulan mereka menyantap seporsi nasi uduk itu berdua. Mereka selalu tersenyum ketika selesai mengunyah suapan nasi yang mereka nikmati bersama. Sungguh aku merasa iba. Namun, hingga nasi udukku datang mereka berdua tetap menikmati semuanya tetap dengan senyum mereka yang memamerkan gigi-gigi mereka yang nyaris habis dimakan usia.
Rasa kagum ku bertambah, saat sang suami dengan mesranya mengusap sisa nasi yang menempel di pipi ciut wanita dihadapan ku itu. Sungguh aku haru bercampur iri melihat drama dihadapanku itu. Keadaan tak menuntut mereka untuk berhenti mencintai, kekurangan tak membuat mereka berhenti untuk berbagi. 

Sampai akhirnya, lelaki tua itu membayar nasi uduk mereka aku masih merasa kagum. Mereka tak sekalipun mengeluh atau saling menyalahkan dengan keadaan mereka sekarang. 

Lelaki tua dan istrinya yang berbaju lusuh itu terlihat sempurna dimataku, ditengah kesulitan mereka tetap saling bergandengan tangan saling berbagi, saling mencintai, saling mengisi. 

Pada hakikatnya kebahagian yang mereka pamerkan padaku mengingatkan padaku, kebahagiaan yang sesungguhnya ada dalam hati mereka. Bukan dari apa yang mereka miliki, bukan dari receh yang mereka kumpulkan sehari-hari, bukan pula dari baju-baju usang mereka yang akan mereka rubah modenya besok dengan tambalan segala rupa, bukan pula dari sandal jepit yang berbeda warnanya, bukan pula dari rambut-rambut putih mereka yang tercat alami adanya, 
bukan . . .
Bukan dari semua itu, 
kebahagiaan ada dalam sanubari mereka, 
dari rasa syukur mereka, 
dari harapan mereka, 
dari cinta 
dan rasa ingin berbagi yang mereka punya . . .
(terimakasih untuk sosok yang kutemui pagi ini di Warung Nasi Uduk Pak Slamet)